1

Jika harus memilih

Aku hanya ingin satu

Jika harus meminta

Aku hanya ingin satu

Jika harus mencari

Aku hanya ingin satu

Jika harus menunggu

Aku hanya ingin satu

Satu yang tak mungkin terbagi

Satu yang tak akan mungkin habis

Satu yang tak pernah sirna

Satu yang tak boleh diduakan

Satu yang tak ada awal dan akhirnya

Hingga bertemu di satu titik

Tanpa hijab membatasi

Iklan

Islam dan Psikologi

Ilustrasi

Sekilas sejarah

Sejak dahulu kala, manusia berhadapan dengan berbagai penyakit  karena faktor-faktor lingkungan hidupnya. Namun pada permulaan abad ini banyak bermunculan berbagai pendapat mengenai relasi antara faktor-faktor lingkungan dengan penyakit.

Saat Freud mendirikan aliran psikoanalisis-nya, sebagian psikoanalis banyak yang menerima dasar pemikiran tentang penyakit psikosomatik[1]dan secara resmi American Psychiatric Association (APA)[2] yang meletakkan istilah psychosomaticatau psychophysiologic Disease. Pada tahun 1913, karl Jasper dalam bukunya General Psychopathology, mengutarakan pendapat tentang keterikatan antara reaksi dan aksiden; menurutnya reaksi adalah respon emosional atas aksiden. Kira-kira pada masa itu juga Adolf Myer mengutarakan sebuah gagasannya tentang adanya relasi erat antara reaktor lingkungan dengan penyakit. Alexander, pimpinan Institut Psykoanalis Chicago, setelah menerima “tujuh penyakit psikosomatik” berkata:

“Menganalisa keadaan jantung seorang pasien, meski sedetil apapun, jika tanpa penyelidikan psikologikal terhadap pasien tersebut, sama sekali tak berarti.”[3]

Maraknya isu tentang stres serta perkembangan makanya ini yang membuat doktor Hans Selye terdorong melakukan penelitian-penelitiannya mengenai stres. Ia mengemukakan teori GAS (General Adaptation Syndrome), yaitu teori tentang reaksi tubuh manusia terhadap stres; bahwa stres selalu menimbulkan reaksi yang sama, tapi berbeda tahapnya (sesuai dengan stressor yang dihadapi dan personalitas individu) lalu organisme menyesuaikan dirinya dengan keadaan baru. Penyesuaian diri ini merupakan unsur penting dalam kehidupan yang bertujuan utama untuk menjaga keseimbangan dasar. Ia pada tahun 1950 memperluas arti stres dengan menjelaskan adanya tiga fase stres:   fase kecemasan[4], perlawanan[5]dan tahap keletihan[6].

Walter Cannon, seorang ahli fisiologi Amerika, pada tahun 1932 mengembangkan konsep homeostasis dan melakukan analisa sistematik tentang fenomena penyesuaian diri yang mana sangat penting sekali bagi keberlangsungan hidup; membuka sesi pembahasan baru mengenai stres. Pada tahun 1934, seorang ilmuan Perancis yang bernama Reilly menyebut proses-proses reaksi non spesifik dengan sebutan “Sindrom Stimulasi” yang mana memiliki kemiripan dengan penjelasan Selye sebelumnya.

Sejak tahun 1900, Wolf telah melakukan banyak penelitian seputar stres yang muncul karena peristiwa-peristiwa environmental. Penelitiannya membuat ia berpandangan bahwa peristiwa-peristiwa pendorong stres, jika diterima oleh seseorang yang menganggapnya seperti itu, akan menimbulkan reaksi-reaksi pertahanan fisiologis; yang mana jika reaksi-reaksi tersebut tidak muncul secara berlebihan, atau tidak muncul secara teratur, akan menyebabkan gangguan-gangguan fisiologis.

Wolf dan Hincle pada tahun 1957 dan 1958 melakukan pengamatan terhadap peran perubahan budaya serta perkembangan sosial dan menarik kesimpulan bahwa perubahan-perubahan penting dapat membahayakan keselamatan individu; dengan dua syarat, sebagaimana yang mereka jelaskan:

1.       Dampak berat perubahan terhadap seseorang

2.       Kesiapan seseorang dalam menghadapi penyakit tertentu

Menurut pandangan mereka, berdampaknya suatu peristiwa tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat peristiwa itu saja, kondisi fisiologis dan psikis seseorang juga berperan penting.[7]

Para peneliti seperti Paykel (1974) berpendapat bahwa unsur penting dalam peristiwa-peristiwa kehidupan adalah datang (seperti kelahiran, pernikahan, dan semacamnya) dan pergi (seperti kematian, perceraian, dan seterusnya).[8]

Sara San (1980) berpandangan bahwa reaksi seseoang terhadap tekanan jiwa seharusnya dinilai dari dua segi situasi dan potensi orang tersebut dalam menghadapinya. Menurutnya reaksi terbaik dalam menghadapi tekanan jiwa adalah menyelesaikannya, bukan memberontak dan menumpahkan emosi.[9]

George (1980) berkeyakinan bahwa reaksi seseorang terhadap tekanan jiwa ditentukan dengan apa yang ia miliki saat menghadapinya. Diantaranya yang terpenting seperti kondisi keuangan, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan psikis, kriteria-kriteria pribadi seperti keahlian, usia, jenis kelamin dan lain sebagainya. Lebih dari itu, kondisi kekeluargaan seperti harmonisnya rumah tangga, keakuran, hubungan yang baik, keahlian dalam menyelesaikan masalah dan perlindungan sosial juga memiliki pengaruh bagi tekanan jiwa.

Waller Stein dan Kelly (1980) menjelaskan bahwa seorang anak kecil, karena ketergantungannya kepada orang tua dan lingkungannya yang hanya terbatas pada rumah, tidak dapat memahami sebab terjadinya suatu peristiwa buruk dan dampak-dampak yang mungkin ditimbulkannya. Namun dengan bertambahnya usia, seseorang akan mendapatkan potensi serta kemampuannya dalam menilai kejadian sekitar juga bertambah; yang mana semua itu berkaitan dengan (sikap dalam menghadapi) tekanan jiwa.[10]

J. Bronson berkata:

“Pola hidup para penderita penyakit psikosomatik di dunia ini terkekang pada gambaran-gambaran kosong khayalan dan ketidaksadaran. Mereka benar-benar bermasalah dalam memahami bahwa kehidupan ini berakar pada masa lalu yang jendelanya mengarah pada masa depan.”[11]

Piaget meneliti dampak gambaran kosong khayalan-khayalan terhadap diri manusia. Ia pernah berkata mengenai pola pikir anak-anak kecil:

“Ketika anak-anak kecil bermain bersama, yang sebagian berperan sebagai polisi dan sebagian lain sebagai pencuri, mereka benar-benar hanyut dalam khayalan itu; sebagian dari mereka benar-benar yakin bahwa dirinya adalah polisi dan sebagian lainnya adalah pencuri.”

Hetherington dan rekan-rekannya (1982) setelah melakukan berbagai riset sampai pada kesimpulan bahwa semakin tinggi mutu kepribadian seseorang, semakin kecil kemungkinan ia mengalami tekanan jiwa. Semakin seseorang mampu mengendalikan dirinya, berpandangan luas dan bersabar, semakin ia mampu menangani tekanan jiwanya; ia akan lebih “bisa” berhadapan dengan berbagai macam masalah.[12]

Doyle dan kerabatnya (1988) setelah meneliti fenomena berubah-ubahnya peristiwa kehidupan entah yang baik maupun buruk, sampai pada kesimpulan bahwa efek negatif dari terjadinya peristiwa-peristiwa buruk atau menyedihkan bagi seseorang tidak dapat dipungkiri, namun tidak ada kesepakatan pendapat tentang adanya pengaruh tetap (tidak mudah sirna) pada peristiwa-peristiwa baik.[13]

Apa itu tekanan jiwa?

Istilah tekanan jiwa atau stres[14] berasal dari kata latin (stpingene) yang berarti merangku, menekan dan membuka lebar; yakni prilaku-prilaku yang bersamaan dengan perasaan-perasaan yang saling bertentangan; sebagai contoh ketika ada seseorang dirangkul dengan erat dan ia merasa sesak. Oleh karena itu, istilah-istilah lain stres juga berasal dari kata ini.[15]

Makna asli kata ini, paling tidak, berkaitan pada abad ke-15. Berdasarkan yang tercatat dalam kamus bahasa Inggris Oxford, pada waktu itu kata tersebut digunakan atas makna “desakan” dan “tekanan fisik”. Pada tahun 1704, kata tekanan tersebut digunakan pada makna “kesusahan” dan “kemalangan”.[16] Pada abad 18, makna stres mengalami perubahan dan dimaksudkan untuk menjelaskan perubahan bentuk suatu logam dalam alat peleburan. Pada tahun 1910, William Osler menulis sebuah artikel tentang suatu penyakit khusus yang diderita kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu dan menjelaskan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh pola hidup mereka yang keras dan tak menentu. Pada tahun 1936, profesor Hans Selye menerbitkan karangan pertamanya seputar sindrom stres. Ia pada tahun 1940 hingga 1950 terus menerus mengutarakan berbagai persepsinya tentang tekanan jiwa; dan pada tahun 1980 ia menjelaskan stres seperti ini:

“Seorang pedangang, menganggap pekerjaannya begitu menjengkelkan; petugas kontrol penerbangan mengeluh karena pekerjaannya membawa masalah dalam konsentrasi; para ahli biokimia juga demikian; begitu juga dengan para olahragawan. Kenyataan ini tidak hanya terbatas pada satu atau dua kasus saja; kebanyakan aktifitas manusia selalu dianggap seperti itu. Semoa orang menganggap pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang membawa stres dan mereka berkeyakinan bahwa diri mereka sedang hidup di era stres. Mereka lupa bahwa rasa takut yang dirasakan oleh manusia penghuni goa akan hewan buas yang mungkin memakannya di saat tidur, mati karena kelaparan, kedinginan atau kelelahan, sama besarnya dengan rasa takut kita di saat ini akan meletusnya perang dunia, kehancuran ekonomi, meledaknya populasi manusia, dan lain sebagainya.”[17]

Stres tidak memiliki satu definisi yang diterima oleh semua kalangan. Oleh karena itu di sini akan disebutkan beberapa definisi yang diutarakan:

1. Brown & Campbell:

“Stres atau tekanan jiwa adalah sesuatu yang bersifat eksternal lalu ditimpakan kepada seseorang dan melahirkan beberapa gangguan fisik maupun psikis.”

Jadi menurut mereka stres merupakan faktor eksternal.

2. Selye:

“Tekanan jiwa merupakan interaksi dan penyesuaian diri yang dilakukan tubuh karena faktor tekanan hidup atau interaksi antara suatu daya dan pertahanan melawan daya tersebut; yakni satu kumpulan tekanan dan perlawanan (reaksi akan tekanan).”

Menurut definisi ini, stres adalah sebuah proses respon. Dengan penjelasan lain, stres akan muncul dikarenakan terjadinya suatu peristiwa tertentu. Selye menyebut keterkaitan (antara terjadinya suatu peristiwa dan tekanan jiwa) tersebut sebagai upaya penyesuaian diri dan pada saat itulah tiga fase stres akan ditentukan. Fase fase tersebut akan dilewati saat organisme sedang berhadapan dengan faktor stres.

Fase pertama, fase kecemasan (the stage of alarm/alarm reaction): ketika suatu organisme secara tiba-tiba berada pada keadaan yang merugikannya dan secara kualitas maupun kuantitas tidak memiliki kesesuaian dengannya, dalam dirinya akan muncul reaksi kecemasan; yang mana Selye menyebutkan dua sub-fase bagi fase kecemasan tersebut:

Pertama, keadaan tak diinginkan yang dikarenakan reaksi mendadak terhadap stressor, memiliki ciri-ciri sebagaimana dapat dilihat pada organisme yang memiliki kelemahan sistim syaraf, seperti detakan jantung yang berdebar-debar. Keadaan ini mungkin berlangsung beberapa menit atau berketerusan hingga 24 jam. Jika keadaan tersebut tidak berujung pada kematian, organisme akan memasuki sub-fase kedua.

Kedua, keadaan dimana suatu organisme untuk kedua kalinya mengalami tekanan seperti sebelumnya lalu secara otomatis perangkat pertahanan dirnya menjadi aktif. Reaksi badan terhadap tekanan tersebut diperumpamakan seperti sistim keamanan anti pencuri dalam bank-bank; yang mana sistim keamanan tersebut akan bereaksi saat ada orang yang tak diinginkan, bahkan hewan atau benda matipun, masuk kedalam area tertentu. Oleh karena itu sistim syaraf menjadi peka dan menunjukkan hiper-reaksi terhadap faktor-faktor eksternal, bagaimanapun dan seperti apapun, yang berusaha masuk; lalu tubuh terdorong masuk dalam suatu keadaan siap bertahan.[18]

Seringkali dua keadaan di atas terwujud secara bercampuran dan jika faktor-faktor yang mewujudkan fase kecemasan tersebut tetap berdatangan, maka organisme akan memasuki fase perlawanan.

Fase kedua, fase perlawanan (the stage of resistance). Pada fase ini, yang mana merupakan fase kesesuaian diri yang ditunjukkan oleh tubuh, adalah fase kebertahanan tubuh dalam menghadapi tekanan dan faktor-faktornya. Secara lahiriah tubuh dalam fase ini terlihat seperti keadaan normal, padahal sesungguhnya ia sedang menghabiskan tenaga untuk pertahanannya. Ketika organisme terus menerus berada dalam keadaan ini, maka energi yang dimiliki tubuh akan habis dan organisme memasuki fase berikutnya, fase keletihan.

Fase ketiga, fase keletihan (the stage of exhaustion). Fase ini akan dimasuki begitu organisme mengakhiri fase perlawanan. Pada fase ini organisme kehilangan kekuatannya untuk menghadapi tekanan. Kemudian muncul reaksi-reaksi fisiologis yang mirip dengan reaksi yang nampak pada fase kecemasan, atau mungkin lebih dari itu; namun tubuh lebih cenderung untuk jatuh lemah daripada menunjukkan pertahanannya. Pada hakikatnya disinilah tubuh mulai mengalami gangguan-gangguan fisiologis akibat tekanan psikis.[19] Jika demikian, tekanan jiwa akan sangat membahayakan jika datang berketerusan dan dalam jangka waktu yang singkat.[20]

3. Alexander, pimpinan Institut Psikologi Chicago berkata:

“Tekanan jiwa adalah ketidak-seimbangan antara pengetahuan seseorang terhadap keharusan-keharusan lingkungan sekitarnya dan pengetahuan terhadap potensi yang ia miliki dalam menjawab keharusan-keharusan tersebut.”

Definisi di atas menitik-beratkan pemahaman seseorang terhadap realita kondisi lingkungannya dan tekanan jiwa bergantung pada unsur-unsur luas yang saling berkaitan antara satu dengan sama lain seperti faktor dan respon, personaliti individu, sudut pandang, penyesuaian diri dan lain sebagainya. Dengan demikian, tekanan jiwa akan terjadi pada diri seseorang saat tidak terjadi keseimbangan antara kemampuan diri menghadapi situasi dan situasi (faktor lingkungan) itu sendiri. Definisi ini lebih memandang tekanan jiwa dari sisi intern-extern ketimbang sisi biologis. Oleh karenanya tekanan jiwa diakui muncul karena faktor eksternal.

Mengukur tekanan jiwa

Untuk mengukur tekanan jiwa, seringkali faktor yang menjadi bahan penyelidikan, yang mana itu tidak benar. Mungkin saja seseorang biasa-biasa saja dalam menghadapi sebuah peristiwa, namun tidak begitu dengan orang lainnya. Oleh karena itu cara yang paling baik dalam mengukur tekanan jiwa adalah memeriksa perubahan-perubahan yang nampak pada badan, karena pada dasarnya tekanan jiwa sama seperti virus atau bakteri yang menyebabkan perubahan pada tubuh. Misalnya saat bakteri memasuki tubuh, sistim pertahan tubuh akan menciptakan antibody agar badan mendapatkan kekebalan.[21]

Tanda-tanda tekanan jiwa

Tanda-tanda yang menunjukkan tekanan jiwa tidak terhitung jumlahnya dan itupun berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Tapi kita dapat menyebutkan beberapa diantaranya. Tubuh bukanlah alat untuk mengukur tekanan jiwa; tapi nyatanya tubuh bagaikan cermin yang menggambarkan tekanan dalam jiwa. Tanda-tanda fisiologis tekanan jiwa diantaranya seperti kejang otot yang sering dirasakan saat meluruskan tenggorokan, bersin-bersin, mulut yang kering, rasa nyeri, gangguan pencernaan, badan terasa tergores-gores, merasa ada yang bengkak, duduk terbungkuk, kaki yang terseret-seret saat berjalan, berdiri yang tak tegap, dan lain sebagainya. Prilaku dan perasaan juga menjadi indikator penting tekanan jiwa.

Beberapa pertanda tekanan jiwa yang dapat dilihat dari prilaku dan perasaan seseorang seperti:

1.             Bermasalah dalam berfikir benar dan logis serta tidak mampu melihat berbagai sisi dari suatu permasalahan.

2.             Tidak fleksibel dalam berpandangan dan berpemikiran.

3.             Agresif tidak pada tempatnya dan mudah tersinggung.

4.             Suka menyendiri dan menjauh dari kerabat.

5.             Berlebihan dalam menghisap rokok, makan dan minum.

6.             Cenderung berjalang dengan cepat, dalam berbicara, dan bahkan dalam bernafas.

7.             Tidak mampu menjaga ketenangan diri sendiri.

8.             Berprilaku kacau; misalnya seseorang yang biasanya rapi dan bersih, karena mengalami tekanan jiwa menjadi jorok dan tidak teratur.

9.             Suka bingung dan berfikir berkali-kali mengenai sesuatu.

10.         Keadaan-keadaan aneh seperti tiba-tiba marah atau gembira, tertekan atau beraktifitas melampaui batas.

Pertanda-pertanda di atas sama seperti indikasi-indikasi fisiologis dalam mengukur tekanan jiwa.

Salah satu kemiripan antara tekanan fisik dan tekanan psikis adalah, dari segi fisikal, seseorang cenderung lesu dan menderita disertai dengan munculnya berbagai penyakit serius dan dari segi kejiwaan ia disertai dengan perasaan lemah dan lelah.[22]

Efek baik dan buruk tekanan jiwa

A. Efek baik: tekanan, kelaziman hidup

Kehidupan manusia selalu diisi dengan peristiwa-peristiwa manis dan pahit. Aktifitas yang berkepanjangan, suara bising, polusi udara, bahaya-bahaya yang hampir menimpa, keributan dalam rumah tangga, adalah bagian dari faktor-faktor tekanan jiwa yang tidak ada cara untuk menghindar darinya. Ibaratnya tekanan-tekanan itu adalah kelaziman dari hidup yang tak mungkin dicegah datangnya; dan kalaupun bisa, hanya akan melelahkan diri sendiri serta membawakan kejenuan. Dengan berpandangan lebar, kita bisa menganggap tekanan-tekanan dalam hidup sebagai pemberian Ilahi. Yang terpenting bagi kita adalah memahami esensi tekanan dan bagaimana ia memberikan dampaknya.

Manusia merasakan ketenangan saat segala sesuatu dalam hidupnya selalu teratur, dapat diprediksi, dan tidak berubah-ubah. Saat terjadi perubahan-perubahan baik positif maupun negatif, pergantian jalur dan harapan juga terjadi dan pilihan baru penting adanya. Pada kondisi seperti ini, prioritas seseorang dalam mengatur kembali keinginan-keinginan dan pilihan-pilihan serta usahanya untuk menyesuaikan diri dengan tekanan jiwa, akan mewujudkan kesiapan diri seseorang tersebut dalam menghadapi bahaya.[23]

Berdasarkan firman Tuhan dalam Al Qur’an, manusia memang diciptakan dalam kesengsaraan.[24] Perjalanannya menuju Tuhan pun juga penuh kesengsaraan.[25] Allah swt. menguji manusia dengan baik dan buruk,[26] rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta benda dan jiwa, juga keringnya ladang-ladang.[27] Dalam Al Qur’an Allah swt. menceritakan ujian-ujian yang Ia berikan kepada manusia dalam kisah-kisah para nabi dan wali-wali Allah, juga dalam permisalan-permisalan dan kisah umat-umat terdahulu. Sebagian dari alasan dari diturunkannya cobaan-cobaan ini adalah:

1.       Menyelamatkan manusia dari kelalaian agar kembali kepada Tuhan

2.       menciptakan sifat sabar dan bertahan dalam diri orang yang beriman dan mewujudkan penyakit batin bagi orang munafik

3.       Menggariskan hikmah dan keadilan Ilahi

4.       Menumbuhkan jiwa manusia

Sebagian para peneliti ilmu psikoterapi, masalah-masalah emosional merupakan salah satu bentuk mekanisme psikoterapi. Mekanisme ini memungkinkan seorang pasien untuk menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang sedang mengalami kesusahan, orang lain pun juga seperti dirinya.[28]

Dalam Al Qur’an disebutkan firman Allah swt. kepada Rasulullah saw. mengenai kesusahan dan kemudahan:

“Karena sesungguhnya setelah kesusahan itu terdapat kemudahan. Dan sesungguhnya setelah kesusahan itu terdapat kemudahan.”[29]

Diulangnya kata-kata dalam ayat di atas, juga keberadaan huruf fa’ pada awal ayat menunjukkan bahwa kesusahan dan kemudahan selalu bersama-sama. Ayat tersebut menjelaskan bahwa saat kita mengalami kesusahan, pasti ada kemudahan setelahnya, dan ini adalah hukum yang berlaku untuk semua manusia; jadi bukan hanya engkau saja. Jika demikian, setelah melewati kesusahan tersebut, langkahkanlah kakimu kepada kesusahan berikutnya, kemudian bersimpuhlah kepada Tuhanmu. Yakni melangkah menuju keharibaan Ilahi tanpa disertai rintangan dan kesusahan tidaklah mungkin.[30]

B. Efek-efek buruk tekanan jiwa

Efek dan pengaruh tekanan jiwa pada tubuh berbeda-beda sesuai dengan perbedaan sistim fisiologi. Efek-efek yang paling penting tekanan jiwa terhadap sistim-sistim fisiologi adalah sebagai berikut:

Pengaruhnya pada sistim urat syaraf

Sakit kepala yang sangat dan disertai rasa pusing, migrain, sakit kepala sebelah yang juga dirasakan pada kening, getaran pada tangan, kaki dan kelopak mata, gagap (susah berbicara) khususnya dalam keadaan marah, cederung tergesa-gesa, gemetarnya beberapa anggota tubuh, lemahnya tubuh secara keseluruhan, lumpuhnya tangan, kaki atau separuh badan, lesu serta lemasnya tangan dan kaki.

Pengaruhnya pada sistim pernafasan

Sinosit dan asma (sesak nafas).

Pengaruhnya pada sistim aliran darah

Mengerasnya pembuluh darah, gangguan jantung kronis, bertambahnya tekanan darah, jantung begitu cepat berdetak dan otot-ototnya melemah.

Pengaruhnya pada sistim pencernaan

Bengkak dan gangguan pada lidah, spasm (bengkak) pada kerongkongan, naiknya asam lambung dan maag, gangguan pada usus duabelas jari, pembengkakan pada usus dan disertai oleh pendarahan, muntah-muntah dan berkurangnya nafsu makan.

Efek-efek di atas pada sendirinya akan menimbulkan beberapa macam penyakit seperti berikut:

A. Gangguan metabolisme

Goiter (penyakit yang disebabkan oleh membengkaknya kelenjar tiroid), diabetes, kegemukan dan kekurusan yang berlebihan, impotensi, batu ginjal dan gangguan-gangguan pertahanan tubuh (kelemahan tubuh dalam menciptakan antibody).

B. Gangguan kulit

Gangguan jiwa dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kulit, seperti timbulnya jerawat, penyakit urtikaria, noda-noda putih pada kulit, dan masih banyak lagi.[31]

Stres dan depresi memiliki keterikatan yang sangat erat. Depresi merupakan dampak yang ditimbulkan oleh tekanan jiwa/stres dan tanda-tandanya dapat dilihat, seperti bergetar dan lain sebagainya.[32]

 


[1] Psychosomatic disease

[2] Asosiasi Doktor Jiwa Amerika

[3] Tanidegi ya Estress (Stres dan Depresi), Stora, halaman 27 dan 28.

[4] The alarm reaction

[5] The stage of resistance

[6] The stage of exhaustion

[7] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 11 dan 12.

[8] Tanidegi ya Estress (Stres dan Depresi), Stora, halaman 18.

[9] Ibid, halaman 19.

[10] Ibid, halaman 14 – 32.

[11] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 127.

[12] Tanidegi ya Estress (Stres dan Depresi), Stora, halaman 19 dan 20.

[13] Ibid, halaman 18.

[14] Dalam buku ini akan lebih sering digunakan istilah “tekanan jiwa” daripada yang lainnya.

[15] Tanidegi ya Estress (Stres dan Depresi), Stora, halaman 25.

[16] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 19.

[17] Tanidegi ya Estress (Stres dan Depresi), Stora, halaman 14 – 25.

[18] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 34 – 37.

[19] Ibid, halaman 25 & 26; Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 19 – 23.

[20] Feshar e Ravani va Ezterab (Stres dan Depresi), Povel,halaman 44.

[21] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 43 & 49.

[22] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 43 – 47; Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Copper, halaman 16.

[23] Feshar e Ravani (Tekanan Jiwa), Martin C., halaman 43 – 49

[24] Al Balad, ayat 4: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kesengsaraan.” Raghib Isfahani, Mufradat, halaman 420: “Allah swt. Menciptakan manusia dalam keadaan tidak dapat lepas dari kesengsaraan sehingga ia menggapai tempat tertingginya yang disebut Darul Qarar.”

[25] Al Insyiqaq, ayat 6: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian sedang berjalan menuju Tuhan kalian dengan penuh kesengsaraan lalu kalian akan bertemu dengan-Nya.”

[26] Al A’raf, ayat 168: “Dan Kami menguji mereka dengan baik dan buruk.”

[27] Al Baqarah, ayat 155: “Dan Kami akan menguji kalian dengan ujian seperti rasa takut dan lapar, kekurangan harta dan jiwa serta sedikitnya buah-buahan.”

[28] Ushul e Behdasht e Ravani (Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 175 dan 176.

[29] Al Insyirah, ayat 6.

[30] Tafsir Al Mizan, Muhammad Husain Thabathabai, jilid 20, halaman 450; Gami Farasuye Ravanshenashi Eslami, Husain Muhammad Syarqawi, halaman 122-128; Ushul e Behdasht e Ravani(Prinsip-Prinsip Kesehatan Jiwa), Sayid Abul Qasim Husaini, halaman 175 & 176.

[31] Estress e Daemi (Stres Berkepanjangan), Pierre Lou & Hendri Lou, halaman 24 – 51.

[32] Ibid, halaman 107.